WARKAH PERPISAHAN
Kelibat Faiz muncul dari keramaian lautan manusia di
Restoran Nelayan tersebut. Dia selalu terlihat tenang dan manis dalam kemeja
biru kota-kotak dan celana hitam polos itu.
“Mai!!”
Seru Faiz sambil melambaikan tangan. Senyuman yang merekah
dari bibir menjemput datang sinar kebahagiaan.
Mai melambai balas. Berusaha tersenyum biasa dan
menyembunyikan kegalauan ritme jantung yang mulai berdetak dengan melodi yang
tidak beraturan. Segera, tangan yang sebelah lagi menarik tangan Riska yang
duduk melongo dikerusi tengah ruang menunggu. Dalam beberapa saat, Mai dan
Riska sudah berlari-lari anak mengekori langkah Faiz.
Bayu sudah ada disana. Dengan santai dan tanpa rasa bersalah
menyantap makan malam duluan. Mai mengambil tempat paling hujung sementara
Riska ditengah. Selalu begitu. Mai senantiasa berusaha mengambil tempat duduk ‘paling
selamat’ antara teman-temannya. Adab dan adat menghalang Mai untuk terlalu
bebas bergaul terutama dengan lawan jenis, meski dengan teman-teman yang sudah
seperti keluarga sendiri. mungkin Mai kedengaran kuno. Namun Mai yakin, setiap
aturan syariat yang telah ditetapkan itu pasti demi kebaikan manusia itu
sendiri kerna Tuhan mengenali diri kita lebih daripada kita sendiri. Faiz duduk
di sisi meja yang bertentangan.
Hari ini hari yang sangat spesial buat Faiz. Hari graduasinya.
Hari dimana dia memperoleh gelar dibidang yang dia impikan selama ini. Sarjana
Teknik Sipil, dari Universitas kebanggaan negri, Universitas Hasanuddin. Apalagi,
saat namanya dipanggil naik ke podium Baruga Andi Petterani untuk dinobatkan
sebagai mahasiswa terbaik fakultas dengan indeks kumulatif di atas rata-rata. Kumlaude,3.98.
satu prestasi yang sangat membanggakan. Faiz Ansari benar-benar anak nol satu..
Menurut kebiasaan orang Makassar, sang graduan akan menggelar acara makan-makan
sebagai tanda syukuran atas nikmat tak terhingga itu. Faiz mengundang juga
teman-teman kelompoknya sewaktu Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk turut berbagi
bahagia.
Entah kenapa, dada Mai berdegup kencang. Mai menempelkan
telapak tangannya ke dinding dada. Jantung terasa mengganas menendang-nendang
lapisan otot yang membaluti tulang belulang tepatnya diruang intercosta III dan
IV, bagai meminta untuk dibebaskan dari ruang sempit mediastinum itu.
“Mati” getus hati Mai tidak percaya.
Mai pantas meraba pergelangan tangan kanannya sambil mata
melirik kea rah jam tangan. Menghitung dalam hati. 135x/min. Di atas normal. Harusnya
jumlah denyut nadi bagi orang dewasa sepertinya berkisar antara 60-100x/min
saja. Denyut nadi bisa meningkat pada
kondisi tubuh yang mengalami stress fisik, emosional atau adanya gejala
inflamasi. Mai tahu dia tidak sakit secara fisik.
“Huu..uhh!” menghela napas panang. Diagnosis kerjanya sudah
pasti!!
Mai tertular virus yang paling berbahaya dijagat raya. Mai sudah
menduganya. Mai bisa membaca gejala-gejala dari “penyakit” yang dibawa oleh “virus
berbahaya” tersebut. Namun Mai enggan untuk akur. Mai takut untuk mengakui
bahwa dia juga telah terserang virus maha dahsyat itu. Mai juga tidak tahu
sejak kapan virus itu menular di sel-sel hepatositnya. Yang dia tahu, saat ini,
virus itu telah bermaharajalela disegenap penjuru urat darahnya. Virus itu
sedang berpesta ria menghasilkan protein-protein steroid yang memberi kekuatan,
protein euphoria yang membuatkan ‘hal sederhana juga terasa begitu indah’, dan
ia telahpun membius akal sekaligus menyingkirkan kalimat ‘mustahil’ dari dalam
mindanya. Itulah patofisiologi dari virus berbahaya di jagat raya ini. VIRUS
MERAH JAMBU!!
Faiz melirik Mai sambil bertanyakan menu yang mahu dipesan
sebagai santapan makan malamnyaMai tersentak sontak membalas tatapan Faiz
sebelum cepat-cepat menundukkan wajah. Berpura-pura sibuk memilih menu makan
malamnya. Astagfirullah..Astagfirullahal adzim..Serta merta ingatan Mai
melayang pada kejadian malam tadi.
------------------------x----------------------------------x-------------------------------x----------------
“Datang ke acaraku besok yah. Tunggu saja smsnya” pesan
singkat dari Faiz.
Mai mengambil tempat dekat meja kerja. Baru sempat mahu
menghela napas setelah penat meresusitasi bayinya yang sempat henti napas dua
tiga menit lalu. Dia masih standby di kamar isolasi ruang perawatan intensif
bayi baru lahir atau dalam bahasa medisnya Neonatal Intensive Care Unit (NICU).
Seminggu ini Mai diberi tanggungjawab untuk bertugas dibagian ini dengan waktu
standby 7 kali 24 jam alias seminggu penuh. Dalam waktu seminggu ini, Mai tidak
diperbolehkan keluar atau meninggalkan ruangan meski untuk makan solat dan
tidur. Jadi biasanya Mai dan teman-teman sejawatnya akan memesan makanan dari
restoran berdekatan rumah sakit yang menyediakan perkhidmatan pesan hantar. Rutinitas
mahasiswa praktek atau klinikal. Hidup berantakan.
“Nanti diliat. Misalnya tidak dapat datang, diganti tuh
traktirannya?”
balas Mai setengah
bercanda. Meski sebenarnya dia memang tidak pasti bisa hadir apa tidak.
“Tidak serunya.. Masa tidak datang? Tapi memang kalau tidak
bisa, jangan dipaksakan. Iya diganti, tapi tidak tahu yah masih punya waktu
atau tidak. “ balas Faiz.
Kata-kata terakhir faiz membuat Mai bingung. Penasaran.
“Apa maksudnya masih punya waktu atau tidak?” Mai membalas
ulang.
“Saya mahu ke Surabaya Mai, lanjut kuliah”
Membaca jawaban sms Faiz, serta merta mata hangat dan
airmata bertakung dipelupuk. Bagai embun yang menanti waktu untuk gugur, akur
pada hokum gravitasi. Tak sampai 5 detik. Empangan mutiara luka itu pun pecah
menjadi bah yang membanjiri dataran Himalaya yang kering kontang. Diluar, hujan
juga turun dengan deras seakan mengerti pertarungan rasa yang bergejolak dalam
dada Mai.
Perginya Faiz berarti akan adanya perpisahan buat selamanya.
Mai tahu itu. Bahkan dari awal! Kerna dalam 1 tahun lagi Mai pasti akan
meninggalkan kota Angging Mammiri ini untuk kembali berkhidmat kepada penaja
biasiswanya. Perpisahan pasti terjadi. PASTI!! Namun Mai tidak menyangka akan
secepat ini. Faiz akan pergi dalam waktu terdekat. Dan paling singkat satu
tahun ke depan. Dan Mai juga Cuma punya satu tahun untuk diabadikan bersama
teman-temannya untuk menghidupkan sang waktu. Mai paling benci dengan
perpisahan. Apalagi dalam waktu yang tidak siap seperti ini.
“Kapan kamu berangkat?” Mai berusaha waras.
“5 Januari”
Mai mulai menghitung. Hari ini tanggal 31 Disember. . besok
1..2..3..4..5 Januari 2012. Cuma tersisa 5 hari sebelum Faiz berangkat. 5 hari
tidak cukup untuk Mai membina tembok kukuh yang akan menahan badai tsunami
airmatanya. 5 hari tidak cukup untuk dia mula belajar hidup tanpa kata-kata
semangat Faiz. 5 hari tidak cukup untuk dia belajar mandiri tanpa mengganggu
hidup Faiz. 5 hari tidak cukup…
“Faiz…sedihku..pasti kita tidak akan bertemu lagi”
Faiz, kenapa perkenalan kita begitu singkat? Kenapa kita
terlalu banyak membuang waktu dengan episode-episode ‘berdiam diri’? kenapa aku
sama sekali tidak pernah terfikir untuk kemungkinan yang ini? Sekurangnya aku
sudah siap saat kamu mengangkat tangan tanda perpisahan. Airmata masih tak
terbendung.
“Pertemuan itu tidak bisa kita duga atau raba. Berdoa saja
moga aka nada lagi pertemuan yang selanjutnya. Saya pasti akan rindu sama kamu”
Balasan sms Faiz menyesakkan dada Mai. Menyambung napas
cukup membuat jiwa terampas. Menyesakkan. No air. No air. Rasanya meneruskan
hidup seakan menghitung mundur menuju hari kematian. Sepertinya dia yang bakal
henti napas sebentar lagi. Untung disitu, Mai Cuma berdua dengan bayi mungil
1000 gram yang terkulai lemah, berjuang untuk hidup dibalik dinding tebal incubator.
Mai tidak tahu apa yang bakal terjadi besok. Tapi yang
pasti, biar bagaimana caranya dia akan hadir di acara Faiz besok. Harus!! Mungkin
ini untuk terakhir kalinya. Semoga Tuhan berpihak padanya.
Selesai visite pagi spesialis perinatologi, dr.Emma SpA, mai
cepat-cepat menyelesaikan semua tugasannya. Dibersihkan si kecil Bayi Ati,
mengganti popok dan memberinya susu serta memasukkan obat. Jam 11.00 pagi Mai
sudah diijinkan untuk keluar. Alhamdulillah. Sepertinya ini hal yang paling
gila yang pernah dia lakukan sepanjang hidup prakteknya, ‘Demi seseorang’..
-------------------------x------------------------------x----------------------------------------------x----
“Mai ini Santi..Santi itu Mai” suara Faiz kembali membawa
Mai kea lam nyata.
“Oh Santi, salam kenal” Mai menyapa junior kelas Faiz yang
kelihatannya masih malu-malu.
Mereka sebelumnya telah berkenalan lewat Muka
Buku. Teman-teman KKN mereka mulai mengeluarkan bunyi-bunyi sumbing, aneh saat
Santi Cuma dikenalkan pada Mai. Tambah Mai dan Faiz pernah dijodoh-jodohkan
sewaktu mereka praktek KKN dulu. Namun Faiz tidak terlalu peduli. Dia bahkan
tidak pernah mengambil serius omelan anak-anak. Hanya dianggap angin lalu. Itu yang
Mai suka tentang Faiz. Yang terus bersikap adil pada pertemanan mereka meski
diganggui seperti itu.
Acara hari itu berjalan mulus. Sampai waktu pulang, Faiz
masih kelihatan ceria. Tidak menunjukkan kesedihan atas perpisahan yang bakal
menjengah. Mungkin dia sama sekali tidak merasakannya. Entah apa yang membuat
rasa Mai begitu dalam… meniti 5 hari yang semakin berkurang serasa menghitung
sisa semangat hidup yang keluar satu persatu. Faiz hanya sebatas temannya meski
dia suka. Cuma T-E-M-A-N. Namun ia seperti cap permanen yang mampu
menyalur semangat dihatinya tanpa padam.
Mungkin Tuhan ingin mengujinya. Mungkin juga ini adalah
ketentuan dari langit. Bahwa Faiz bukanlah ditakdirkan sebagai orang yang akan
berada disisinya. Jika saja Faiz Ansari adalah nama yang telah dituliskan Tuhan
tercantum dalam lingkaran yang sama dengan Syifa Rumaisa’ di Luh Mahfuz, pasti
Tuhan punya caraNya yang tersendiri untuk mempertemukan mereka kembali dalam
keadaan yang lebih baik. PASTI!!
Sekarang bukanlah cinta itu hal yang wajar dimilikinya
sedangkan ada yang lebih utama yang harus didahulukannya. Dia tidak boleh
berdamai dengan virus-virus yang akan menjeratnya ini. Sebaliknya dialah yang
harus menuntun cintanya ke jalan yang diredhai. Melepaskan cintanya ini untuk
mendapatkan cinta yang lebih baik atau mendapatkan cintanya kembali dalam
keadaan yang lebih baik. Dan satu-satunya antidote untuk membunuh viris-virus
merah jambu itu adalah dengan jalan M-U-J-A-H-A-D-A-H. mujahadah itu pahit
sewaktu menghadapi tapi manis setelah dilalui.
“Ya Allah seandainya dia ditakdirkan milikku, dekatkanlah hatinya
dengan hatiku dan jauhkanlah kami dari perkara yang mungkar. Seandainya dia
bukan milikku, jauhkanlah hatinya dari hatiku dan peliharalah kami dari rasa
sedih dan dukacita..”
Amin..
Buatmu Faiz,
Langit adalah arenamu terbanglah..aku tidak akan berkata apa-apa. kerna kamu akan selalu menjadi keajaiban bagiku..bahkan diammu dulu..
amni_shamrah
1 Januari 2012
Labels: My Pen


